Aku rasa kamu tidak pernah mengerti.
Terlalu banyak hal rumit yang terjadi antara aku dan kamu.
Sedikit saja kita menyinggung, akan menjadi panjang. Dan kadang hal ini bukan hal-hal yang seharusnya kita perdebatkan.
Tidak disituasi ini, tidak di usia kita yang terbilang bukan remaja lagi, dan seharusnya tidak untuk kita.
Aku tidak mengenal kamu terlalu lama. Sebentar saja.
Dan kedekatan ini pun tidak pernah aku rancang untuk ada.
Saat pertama melihat sosokmu, tak ada hal yang aneh. Serupa ketika bertemu dengan teman yang lain.
Yang kutahu, aku memang agak penasaran dengan sosokmu yang beberapa kali kerap dibincangkan orang.
Aku tidak bisa memastikan bentuk apa ini.
Sebuah bentuk yang akhir-akhir ini mulai membuat aku bingung dan buta arah.
Aku hanya mencoba membuatnya mengalir dengan normalnya. Tapi kali ini mungkin aku pun gagal.
Aku menikmati aroma parfummu yang harus kucium ketika aku duduk bersebelahan denganmu.
Aku tak bisa untuk tidak membalas pesan elektrik darimu yang mampir pada telepon selularku.
Aku menyukai setiap kali kamu tertawa untuk sebuah topik konyol yang kita perbincangkan.
Dan aku tak bisa berbohong, bahwa aku mulai menunggu telepon selularku kembali berbunyi dan memajang namamu disana.
Aku tidak memiliki alasan untuk menyukaimu.
Namun ruam-ruam senyum yang secara tak sadar tersungging itu kadang menjadi kebohongan terbesar yang harus aku lalui.
Selalu ketika aku membaca pesan elektrik darimu. Dan itu tidak seharusnya terjadi.
Tidak untuk kamu yang sudah mengenal dia.
Dia yang sudah lama mengenalmu adalah orang terbaik untukmu. Seseorang yang memiliki rasa yang luar biasa untukmu.
Jauh lebih besar dari yang kumiliki.
Dari sekedar rasa percaya, peduli, simpati atau kagum yang selalu aku kamuflasekan.
Kali ini aku tidak ingin menyalahkan keadaan.
Namun kerap kali kata andai masih terlontar dari benakku.
'Andai saja...'
Mungkin yang paling kusesalkan adalah ketika kamu menceritakan semuanya. Semua hal yang tidak bisa kamu campur dengan logika. Semua hal yang kamu bilang tidak bisa kamu atur.
Karena itu yang membingungkan. Membutakan. Sampai aku tidak bisa berbuat apa-apa.
'Andai saja kamu tidak menceritakan semuanya...'
Mungkin aku tidak perlu repot untuk menjaga logikaku tetap berjalan beriringan.
Mungkin aku tidak perlu membuat kamuflase atau kebohongan lain agar aku tidak terjebak.
Mungkin aku tidak perlu membiarkan rasa penasaran itu terus ada, rasa nyaman itu terus berkembang untukmu.
Atau mungkin aku tidak perlu bersusah payah untuk kembali memendam sesuatu yang bukan untukku.
Sesuatu yang membuatku harus menghindar.
Sesuatu yang mungkin membuat aku menangis jika terus ada.
Terlalu banyak hal rumit yang terjadi antara aku dan kamu.
Sedikit saja kita menyinggung, akan menjadi panjang. Dan kadang hal ini bukan hal-hal yang seharusnya kita perdebatkan.
Tidak disituasi ini, tidak di usia kita yang terbilang bukan remaja lagi, dan seharusnya tidak untuk kita.
Aku tidak mengenal kamu terlalu lama. Sebentar saja.
Dan kedekatan ini pun tidak pernah aku rancang untuk ada.
Saat pertama melihat sosokmu, tak ada hal yang aneh. Serupa ketika bertemu dengan teman yang lain.
Yang kutahu, aku memang agak penasaran dengan sosokmu yang beberapa kali kerap dibincangkan orang.
Aku tidak bisa memastikan bentuk apa ini.
Sebuah bentuk yang akhir-akhir ini mulai membuat aku bingung dan buta arah.
Aku hanya mencoba membuatnya mengalir dengan normalnya. Tapi kali ini mungkin aku pun gagal.
Aku menikmati aroma parfummu yang harus kucium ketika aku duduk bersebelahan denganmu.
Aku tak bisa untuk tidak membalas pesan elektrik darimu yang mampir pada telepon selularku.
Aku menyukai setiap kali kamu tertawa untuk sebuah topik konyol yang kita perbincangkan.
Dan aku tak bisa berbohong, bahwa aku mulai menunggu telepon selularku kembali berbunyi dan memajang namamu disana.
Aku tidak memiliki alasan untuk menyukaimu.
Namun ruam-ruam senyum yang secara tak sadar tersungging itu kadang menjadi kebohongan terbesar yang harus aku lalui.
Selalu ketika aku membaca pesan elektrik darimu. Dan itu tidak seharusnya terjadi.
Tidak untuk kamu yang sudah mengenal dia.
Dia yang sudah lama mengenalmu adalah orang terbaik untukmu. Seseorang yang memiliki rasa yang luar biasa untukmu.
Jauh lebih besar dari yang kumiliki.
Dari sekedar rasa percaya, peduli, simpati atau kagum yang selalu aku kamuflasekan.
Kali ini aku tidak ingin menyalahkan keadaan.
Namun kerap kali kata andai masih terlontar dari benakku.
'Andai saja...'
Mungkin yang paling kusesalkan adalah ketika kamu menceritakan semuanya. Semua hal yang tidak bisa kamu campur dengan logika. Semua hal yang kamu bilang tidak bisa kamu atur.
Karena itu yang membingungkan. Membutakan. Sampai aku tidak bisa berbuat apa-apa.
'Andai saja kamu tidak menceritakan semuanya...'
Mungkin aku tidak perlu repot untuk menjaga logikaku tetap berjalan beriringan.
Mungkin aku tidak perlu membuat kamuflase atau kebohongan lain agar aku tidak terjebak.
Mungkin aku tidak perlu membiarkan rasa penasaran itu terus ada, rasa nyaman itu terus berkembang untukmu.
Atau mungkin aku tidak perlu bersusah payah untuk kembali memendam sesuatu yang bukan untukku.
Sesuatu yang membuatku harus menghindar.
Sesuatu yang mungkin membuat aku menangis jika terus ada.
