Mungkin banyak yang bilang kita sama
Karena kita selalu bersama
Berjalan bersama sama menuju tempat yang kita datangi tanpa bosan
Yang kadang berceloteh kesana kemari tanpa arah
Yang selalu membuat kita terbahak
Apa aku berfikir tentang apa yang kalian punya?
Apa aku berfikir tentang barang yang kalian punya?
Aku tak pernah berfikir tentang seberapa pintar kalian
Seberapa gaul kalian
Atau seberapa banyak uang yang kalian punya
Bukan...
Bukan itu yang aku pikirkan
Untuk selalu berada dekat dengan kalian, menghabiskan waktu bersama-sama
Ya..
Kalian sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan apapun, dengan jumlah uang sekalipun
Padahal kalian itu biasa
Ya..
Kalian biasa, KITA BIASA, tapi entah mengapa kalian sungguh LUAR BIASA
bahkan SANGAT LUAR BIASA
Kalian tahu mengapa demikian?
Ya KITA YANG MEMBUAT SEMUA ITU SANGAT LUAR BIASA
Dan tanpa kalian sadari, memang kita ini tidak sama, kita datang dari rumah berbeda, dari orang tua berbeda
Tapi mengapa terkadang mereka berpikir kita sama?
Ya...
Karena TUHAN mempertemukan semua hati jadi satu
Yang diberi nama keluarga...
Keluarga kita yang selalu membuat dosa-dosa kecil yang terkadang direncanakan, terkadang tidak pula direncanakan
Tentang kejutan yang selalu apa adanya tapi SANGAT LUAR BIASA
Lagi-lagi kalian sangat luar biasa
Sungguh kalian menjadi warna berbeda
Sangat berbeda
Jika pelangi sangat indah
Kalian lebih indah dari pelangi
Atau bahkan bintang malam sekalipun
Tanpa kita sadari arus masa depan kadang membuat kita jauh
Tapi apa kalian sadar?
Kalian terus mengikuti cerita hidupku setiap detiknya
Sepi kadang...
Tapi inilah hidup
Kalian luar biasa atau bahkan sangat luar biasa
Kalian keluarga
Ya...
Kalian semua adik-adikku
Adik-adik yang paling juara
Jika ada perlombaan apapun kita yakin kita juara
Ya...
Kalian adik-adikku
Teman hidupku
Kalian adik-adikku paling juara serta istimewa
TUHAN BERIKAN HADIAH LAIN SELAIN KELUARGA KU DIRUMAH
HADIAH ITU KALIAN
I LOVE YOU ALL MY LOVELY BRAD AND SIST
*author : Rizal Firmansyah Plyang
Karena kita selalu bersama
Berjalan bersama sama menuju tempat yang kita datangi tanpa bosan
Yang kadang berceloteh kesana kemari tanpa arah
Yang selalu membuat kita terbahak
Apa aku berfikir tentang apa yang kalian punya?
Apa aku berfikir tentang barang yang kalian punya?
Aku tak pernah berfikir tentang seberapa pintar kalian
Seberapa gaul kalian
Atau seberapa banyak uang yang kalian punya
Bukan...
Bukan itu yang aku pikirkan
Untuk selalu berada dekat dengan kalian, menghabiskan waktu bersama-sama
Ya..
Kalian sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan apapun, dengan jumlah uang sekalipun
Padahal kalian itu biasa
Ya..
Kalian biasa, KITA BIASA, tapi entah mengapa kalian sungguh LUAR BIASA
bahkan SANGAT LUAR BIASA
Kalian tahu mengapa demikian?
Ya KITA YANG MEMBUAT SEMUA ITU SANGAT LUAR BIASA
Dan tanpa kalian sadari, memang kita ini tidak sama, kita datang dari rumah berbeda, dari orang tua berbeda
Tapi mengapa terkadang mereka berpikir kita sama?
Ya...
Karena TUHAN mempertemukan semua hati jadi satu
Yang diberi nama keluarga...
Keluarga kita yang selalu membuat dosa-dosa kecil yang terkadang direncanakan, terkadang tidak pula direncanakan
Tentang kejutan yang selalu apa adanya tapi SANGAT LUAR BIASA
Lagi-lagi kalian sangat luar biasa
Sungguh kalian menjadi warna berbeda
Sangat berbeda
Jika pelangi sangat indah
Kalian lebih indah dari pelangi
Atau bahkan bintang malam sekalipun
Tanpa kita sadari arus masa depan kadang membuat kita jauh
Tapi apa kalian sadar?
Kalian terus mengikuti cerita hidupku setiap detiknya
Sepi kadang...
Tapi inilah hidup
Kalian luar biasa atau bahkan sangat luar biasa
Kalian keluarga
Ya...
Kalian semua adik-adikku
Adik-adik yang paling juara
Jika ada perlombaan apapun kita yakin kita juara
Ya...
Kalian adik-adikku
Teman hidupku
Kalian adik-adikku paling juara serta istimewa
TUHAN BERIKAN HADIAH LAIN SELAIN KELUARGA KU DIRUMAH
HADIAH ITU KALIAN
I LOVE YOU ALL MY LOVELY BRAD AND SIST
*author : Rizal Firmansyah Plyang
Sayang...
Ingin sekali aku memanggilmu seperti itu. Memanggil dengan sepenuh rasa. Seluas rasa yang kumiliki. Sedalam rasa aku tertaut padamu. Jauh, dan jauh.
Sayang...
Tak tahukah kau rasanya dibeberapa siang dan malamku ada hasrat untuk memelukmu erat. Menggenggam hangat rasa yang kau salurkan padaku. Dalam setiap sapamu atau senyummu.
Sayang...
Terlalu lama waktu berbicara dan menunggu tentang kita. Tidakkah kau merindukannya? Duduk bersamaku. Menjalin benang-benang rasa yang aku dan kau pun tahu, kita memilikinnya.
Sayang...
Benarkah ada rasa ini? Tertambat pada hati kita yang ingin melebur menjadi satu. Seolah menjadikan kita manusia paling beruntung dan bahagia karena saling memiliki walau dalam diam. Tersenyum walau hanya untuk kita sendiri, tanpa perlu orang tahu betapa indah rasa ini.
Sayang...
Dalam senyapku aku berdoa. Walau waktu tak mengizinkan kebersamaan kita. Walau ruang tak memberikan kesempatan untuk kita saling mendekap. Tapi kita punya hati yang besar. Biar rasa ini menjadi kristal, tersimpan jauh dalam dasar yang tidak pernah meruak kepermukaan.
Selalu dan selamanya...
Ingin sekali aku memanggilmu seperti itu. Memanggil dengan sepenuh rasa. Seluas rasa yang kumiliki. Sedalam rasa aku tertaut padamu. Jauh, dan jauh.
Sayang...
Tak tahukah kau rasanya dibeberapa siang dan malamku ada hasrat untuk memelukmu erat. Menggenggam hangat rasa yang kau salurkan padaku. Dalam setiap sapamu atau senyummu.
Sayang...
Terlalu lama waktu berbicara dan menunggu tentang kita. Tidakkah kau merindukannya? Duduk bersamaku. Menjalin benang-benang rasa yang aku dan kau pun tahu, kita memilikinnya.
Sayang...
Benarkah ada rasa ini? Tertambat pada hati kita yang ingin melebur menjadi satu. Seolah menjadikan kita manusia paling beruntung dan bahagia karena saling memiliki walau dalam diam. Tersenyum walau hanya untuk kita sendiri, tanpa perlu orang tahu betapa indah rasa ini.
Sayang...
Dalam senyapku aku berdoa. Walau waktu tak mengizinkan kebersamaan kita. Walau ruang tak memberikan kesempatan untuk kita saling mendekap. Tapi kita punya hati yang besar. Biar rasa ini menjadi kristal, tersimpan jauh dalam dasar yang tidak pernah meruak kepermukaan.
Selalu dan selamanya...
Dear You,
Kali ini ingin sekali aku menulis. Menulis kalimat yang bukan hanya mulutku saja yang mampu mengucapkannya. Tetapi membawa pena menari-nari pada kertas kosong.
Hari ini kembali ku bertemu dengannya. Dari semua pertemuan singkat kita, rasanya kali ini benar-benar aku ingin menyapamu. Rasa rindu yang mungkin sudah terlalu lama memendam, tapi kalah oleh rasa malu.
Mencium aromamu pagi ini, menaikkan bulu kudukku.
Ada rasa ingin memelukmu, mendekap hangat aroma tubuhmu yang sangat ku kagumi.
Kusediakan kursi kosong disebelahku pagi ini, kuharap kamu sedikit saja berpaling ke arahku dan memilih kursi disebelahku. Tapi tidak. Pagi ini lagi-lagi aku gagal untuk berbicara lebih bnyak, mengenalmu lebih banyak. Dan pagi ini hanya aromamu kembali yang dapat ku kagumi.
Pernah aku berpikir apakah ada cara lain untuk menyapamu. Selain di kereta tempat kita saling menunggu untuk sampai ketempat tujuan masing-masing. Selain di peron-peron kereta tempat kita sama-sama mengantri untuk pergi dan memilih tujuan selanjutnya.
Memandangmu sudah menjadi kebiasaan rutin pagiku. Mencari-cari sosok yang kurasa jauh namun dekat.
Entah pagi ini aku yang sedikit terlambat atau mungkinkah kamu yang lebih dulu sampai. Kulihat bangku kosong disebelahmu, tanpa pikir panjang ingin sekali aku memilih bangku itu, dari 3 bangku kosong lainnya yang kulihat.
Sekilas kulihat kamu melirik kearah ku untuk sekian detik. Ada tatapan kamu ingin aku duduk disana. Dibangku kosong sebelahmu. Harapku. Tapi entahlah mungkin saja aku yang telalu berharap.
Dah akhirnya cepat saja aku terduduk dibangku terdekat dan layaknya hari kemarin, kemarin dan kemarin dan kemarin. Aku hanya bisa menikmati aromamu dari tempatku, sambil berharap diberikan kesempatan untuk menyapamu, mengenalmu lebih dekat, dan tersenyum denganmu.
Kali ini ingin sekali aku menulis. Menulis kalimat yang bukan hanya mulutku saja yang mampu mengucapkannya. Tetapi membawa pena menari-nari pada kertas kosong.
Hari ini kembali ku bertemu dengannya. Dari semua pertemuan singkat kita, rasanya kali ini benar-benar aku ingin menyapamu. Rasa rindu yang mungkin sudah terlalu lama memendam, tapi kalah oleh rasa malu.
Mencium aromamu pagi ini, menaikkan bulu kudukku.
Ada rasa ingin memelukmu, mendekap hangat aroma tubuhmu yang sangat ku kagumi.
Kusediakan kursi kosong disebelahku pagi ini, kuharap kamu sedikit saja berpaling ke arahku dan memilih kursi disebelahku. Tapi tidak. Pagi ini lagi-lagi aku gagal untuk berbicara lebih bnyak, mengenalmu lebih banyak. Dan pagi ini hanya aromamu kembali yang dapat ku kagumi.
Pernah aku berpikir apakah ada cara lain untuk menyapamu. Selain di kereta tempat kita saling menunggu untuk sampai ketempat tujuan masing-masing. Selain di peron-peron kereta tempat kita sama-sama mengantri untuk pergi dan memilih tujuan selanjutnya.
Memandangmu sudah menjadi kebiasaan rutin pagiku. Mencari-cari sosok yang kurasa jauh namun dekat.
Entah pagi ini aku yang sedikit terlambat atau mungkinkah kamu yang lebih dulu sampai. Kulihat bangku kosong disebelahmu, tanpa pikir panjang ingin sekali aku memilih bangku itu, dari 3 bangku kosong lainnya yang kulihat.
Sekilas kulihat kamu melirik kearah ku untuk sekian detik. Ada tatapan kamu ingin aku duduk disana. Dibangku kosong sebelahmu. Harapku. Tapi entahlah mungkin saja aku yang telalu berharap.
Dah akhirnya cepat saja aku terduduk dibangku terdekat dan layaknya hari kemarin, kemarin dan kemarin dan kemarin. Aku hanya bisa menikmati aromamu dari tempatku, sambil berharap diberikan kesempatan untuk menyapamu, mengenalmu lebih dekat, dan tersenyum denganmu.
Aku rasa kamu tidak pernah mengerti.
Terlalu banyak hal rumit yang terjadi antara aku dan kamu.
Sedikit saja kita menyinggung, akan menjadi panjang. Dan kadang hal ini bukan hal-hal yang seharusnya kita perdebatkan.
Tidak disituasi ini, tidak di usia kita yang terbilang bukan remaja lagi, dan seharusnya tidak untuk kita.
Aku tidak mengenal kamu terlalu lama. Sebentar saja.
Dan kedekatan ini pun tidak pernah aku rancang untuk ada.
Saat pertama melihat sosokmu, tak ada hal yang aneh. Serupa ketika bertemu dengan teman yang lain.
Yang kutahu, aku memang agak penasaran dengan sosokmu yang beberapa kali kerap dibincangkan orang.
Aku tidak bisa memastikan bentuk apa ini.
Sebuah bentuk yang akhir-akhir ini mulai membuat aku bingung dan buta arah.
Aku hanya mencoba membuatnya mengalir dengan normalnya. Tapi kali ini mungkin aku pun gagal.
Aku menikmati aroma parfummu yang harus kucium ketika aku duduk bersebelahan denganmu.
Aku tak bisa untuk tidak membalas pesan elektrik darimu yang mampir pada telepon selularku.
Aku menyukai setiap kali kamu tertawa untuk sebuah topik konyol yang kita perbincangkan.
Dan aku tak bisa berbohong, bahwa aku mulai menunggu telepon selularku kembali berbunyi dan memajang namamu disana.
Aku tidak memiliki alasan untuk menyukaimu.
Namun ruam-ruam senyum yang secara tak sadar tersungging itu kadang menjadi kebohongan terbesar yang harus aku lalui.
Selalu ketika aku membaca pesan elektrik darimu. Dan itu tidak seharusnya terjadi.
Tidak untuk kamu yang sudah mengenal dia.
Dia yang sudah lama mengenalmu adalah orang terbaik untukmu. Seseorang yang memiliki rasa yang luar biasa untukmu.
Jauh lebih besar dari yang kumiliki.
Dari sekedar rasa percaya, peduli, simpati atau kagum yang selalu aku kamuflasekan.
Kali ini aku tidak ingin menyalahkan keadaan.
Namun kerap kali kata andai masih terlontar dari benakku.
'Andai saja...'
Mungkin yang paling kusesalkan adalah ketika kamu menceritakan semuanya. Semua hal yang tidak bisa kamu campur dengan logika. Semua hal yang kamu bilang tidak bisa kamu atur.
Karena itu yang membingungkan. Membutakan. Sampai aku tidak bisa berbuat apa-apa.
'Andai saja kamu tidak menceritakan semuanya...'
Mungkin aku tidak perlu repot untuk menjaga logikaku tetap berjalan beriringan.
Mungkin aku tidak perlu membuat kamuflase atau kebohongan lain agar aku tidak terjebak.
Mungkin aku tidak perlu membiarkan rasa penasaran itu terus ada, rasa nyaman itu terus berkembang untukmu.
Atau mungkin aku tidak perlu bersusah payah untuk kembali memendam sesuatu yang bukan untukku.
Sesuatu yang membuatku harus menghindar.
Sesuatu yang mungkin membuat aku menangis jika terus ada.
Terlalu banyak hal rumit yang terjadi antara aku dan kamu.
Sedikit saja kita menyinggung, akan menjadi panjang. Dan kadang hal ini bukan hal-hal yang seharusnya kita perdebatkan.
Tidak disituasi ini, tidak di usia kita yang terbilang bukan remaja lagi, dan seharusnya tidak untuk kita.
Aku tidak mengenal kamu terlalu lama. Sebentar saja.
Dan kedekatan ini pun tidak pernah aku rancang untuk ada.
Saat pertama melihat sosokmu, tak ada hal yang aneh. Serupa ketika bertemu dengan teman yang lain.
Yang kutahu, aku memang agak penasaran dengan sosokmu yang beberapa kali kerap dibincangkan orang.
Aku tidak bisa memastikan bentuk apa ini.
Sebuah bentuk yang akhir-akhir ini mulai membuat aku bingung dan buta arah.
Aku hanya mencoba membuatnya mengalir dengan normalnya. Tapi kali ini mungkin aku pun gagal.
Aku menikmati aroma parfummu yang harus kucium ketika aku duduk bersebelahan denganmu.
Aku tak bisa untuk tidak membalas pesan elektrik darimu yang mampir pada telepon selularku.
Aku menyukai setiap kali kamu tertawa untuk sebuah topik konyol yang kita perbincangkan.
Dan aku tak bisa berbohong, bahwa aku mulai menunggu telepon selularku kembali berbunyi dan memajang namamu disana.
Aku tidak memiliki alasan untuk menyukaimu.
Namun ruam-ruam senyum yang secara tak sadar tersungging itu kadang menjadi kebohongan terbesar yang harus aku lalui.
Selalu ketika aku membaca pesan elektrik darimu. Dan itu tidak seharusnya terjadi.
Tidak untuk kamu yang sudah mengenal dia.
Dia yang sudah lama mengenalmu adalah orang terbaik untukmu. Seseorang yang memiliki rasa yang luar biasa untukmu.
Jauh lebih besar dari yang kumiliki.
Dari sekedar rasa percaya, peduli, simpati atau kagum yang selalu aku kamuflasekan.
Kali ini aku tidak ingin menyalahkan keadaan.
Namun kerap kali kata andai masih terlontar dari benakku.
'Andai saja...'
Mungkin yang paling kusesalkan adalah ketika kamu menceritakan semuanya. Semua hal yang tidak bisa kamu campur dengan logika. Semua hal yang kamu bilang tidak bisa kamu atur.
Karena itu yang membingungkan. Membutakan. Sampai aku tidak bisa berbuat apa-apa.
'Andai saja kamu tidak menceritakan semuanya...'
Mungkin aku tidak perlu repot untuk menjaga logikaku tetap berjalan beriringan.
Mungkin aku tidak perlu membuat kamuflase atau kebohongan lain agar aku tidak terjebak.
Mungkin aku tidak perlu membiarkan rasa penasaran itu terus ada, rasa nyaman itu terus berkembang untukmu.
Atau mungkin aku tidak perlu bersusah payah untuk kembali memendam sesuatu yang bukan untukku.
Sesuatu yang membuatku harus menghindar.
Sesuatu yang mungkin membuat aku menangis jika terus ada.
