potret cinta di ibukota

10:42 PM

sore sudah menjelang, mungkin bukan sore tapi malam. saat itu langkah kaki mulai juntai. tidak akan selelah ini mungkin, hanya saja sebuah bombadir besar sepertinya telah merusak semangat yang saya miliki di awal dua minggu kemarin. sedikit saya berpikir akankah semua akan kembali biasa? ketika langkah dalam hirukpikuk keramaian suasana pada pulang kerja tidak lagi menjadi pemicu untuk istirahat.
saya sedikit melihat seorang kenek bus omprengan sibuk berteriak memanggil penumpang yang mungkin menurut saya ‘calon penumpang’ tidak ingin naik bus itu. sementara disisi lain seorang ibu-ibu beserta (mungkin anaknya menurut saya) sedang bingung mencari kendaraan apa yang ingin ditumpanginya. sesekali Sang ibu hanya berkata “nak, mungkin kita perlu naik bus itu?”
Pemandangan yang cukup biasa untuk saya lihat tapi bukan itu yang ingin saya tangkap. Saya rasa saya tak dapat membohongi sesuatu yang terlihat dalam raut wajah ibu tersebut.

Malam mulai menapaki.
Tidak beriring dengan suasana ibukota yang tidak terlihat dimana seharusnya aktifitas berkurang dan gelap akan menemani dimana waktu istirahat tiba. Lampu kota tetap memendar seperti tidak lelah untuk tetap berdiri untuk jutaan waktu yang telah dihabiskannya selama ini.
Sesosok lelaki tua terlihat mulai lelah. Duduk dengan raut cemas jam berapakah ia akan sampai dirumah nanti dengan ramai seperti ini. Satu persatu orang mulai menaiki kendaraan besar itu, dimana seorang bapak tadi harus ikut berdesakan untuk memasukinya. Saya rasa ia tetap berusaha untuk melewati keras nya tempat hidup yang ia miliki.
Saat itu saya terpikir, tidak seharusnya ia berada disini, hari tua yang indah seharusnya ia miliki bersantai dengan istri, anak dan cucunya. Tapi ia masih dengan setelan karyawannya menenteng sebuah tas dan kantong plastik hitam. Mengelap keringat yang mulai bercucuran dalam kerumunan dan dengan wajah lelah ia mengetik pesan untuk istrinya “mah, papa belum makan, nanti mau beli lauk. mama masak nasi aja. nanti kita makan sama-sama.”
Senyum simpul saya berikan untuk wajah saya. Dalam kesibukan dan kelelahannya pun ia masih menanti ingin menikmati makan malam bersama istrinya. Sungguh Indah.

Perjalanan saya belum berujung. s
Saat ini saya bahkan melihat seorang ibu mengelus-ngelus buah hatinya yang masih balita dan ingin tertidur padahal itu disebuah jembatan penyebrangan. Dengan rela memberikan alas duduknya untuk tidur sang anak agar lebih lelap sementara ia duduk bersila ditanah.

Hari yang luar biasa.
Setiap sudut memiliki bentuk cinta yang berbeda. Sepasang sejoli muda pun tak ingin kalah dengan ruang potret saya hari ini. Tetap dengan mesra menggandeng sang kekasih dan tertawa bahagia walaupun mereka harus naik kendaraan umum. Tidak memaksakan untuk mengikuti perubahan jaman dengan tuntutan anak muda. Sepasang suami istri paruh baya dimana sang suami terus menggandeng tangan sang istri diantara kerumunan lalulalang manusia pada kota.

Saya tidak menyimpulkan sesuatu untuk lebih terlihat indah dari ini. Sebuah kebiasaan mungkin akan tetap terlihat biasa oleh orang-orang. Tapi tidak bagi saya. Suatu potret yang tidak mungkin bisa digambarkan atau terlihat kasat mata pada dunia yang sudah tidak peduli dengan arti sebuah ketulusan. Sebuah hal sederhana yang tidak memandang batas usia.
Satu kalimat yang sangat ingin saya ungkapkan pada hari ini adalah ”Terima kasih ya Allah”
Saya adalah orang yang paling beruntung yang saya yakini. Saya memiliki potret itu. Sesuatu yang mungkin untuk beberapa orang akan sangat sulit mendapatkannya, ada pula yang menyianyiakannya atau tak sadar dengan keberadaannya. Tidak ada yang ingin saya pinta untuk lebih egois lagi. Menjaga mereka untuk tetap menjadi potret terindah yang pernah saya miliki dan sangat bersyukur telah memiliki pendamping yang tidak akan pernah mati walau nafas telah berhenti jam kerjanya.

Love u mama..
Love u papa..
Love u sister..
Love u brother..
Love u all my big family..
and missing u my beloved grandpa .. u.u

You Might Also Like

0 comments

Angka Keberuntungan !